Rabu, 10 September 2025

 

.........”Kami Menurunkan Al Qur'an dan kami Pula yang Akan Menjaganya"”....... 

Rahasia di Balik Kata “Kami” dan “Aku” dalam Al-Qur’an

Saat membaca Al-Qur’an, kita sering menemukan Allah SWT menggunakan kata ganti “Aku” di sebagian ayat, namun pada ayat lain menggunakan kata ganti “Kami”. Sekilas, hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa Allah yang Maha Esa terkadang menyebut diri-Nya dengan kata tunggal, namun di lain tempat memakai bentuk jamak?

Para ulama tafsir dan ahli bahasa Arab menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan dalam hal ini. Penggunaan kata “Aku” menekankan ketauhidan dan keesaan Allah SWT, bahwa hanya Dia satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Sementara penggunaan kata “Kami” bukan berarti Allah berbilang, tetapi sebagai bentuk jam‘u ta‘zhīm (plural kehormatan), yang menunjukkan kebesaran, kemuliaan, dan keagungan Allah SWT. Dengan memahami rahasia bahasa ini, kita semakin menyadari bahwa setiap ayat Al-Qur’an tersusun dengan penuh hikmah dan kedalaman makna. Tidak ada satu kata pun yang sia-sia, semuanya mengandung pelajaran bagi orang-orang yang mau merenung.

1. “Kami” dalam Bahasa Arab adalah Plural of Majesty

Dalam bahasa Arab, penggunaan kata ganti jamak untuk satu pihak disebut jam‘u at-ta‘zhīm (plural of majesty atau royal we). Artinya, bentuk jamak digunakan bukan untuk menunjukkan jumlah, melainkan untuk menunjukkan kemuliaan, keagungan, dan kebesaran.

Contoh dalam bahasa sehari-hari:

Dalam bahasa Indonesia, seorang raja atau presiden sering berkata, “Kami memutuskan…”, padahal yang berbicara hanya satu orang.

Demikian pula dalam Al-Qur’an, kata “Kami” menunjukkan  kebesaran Allah, bukan jumlah.

2. Dalil Al-Qur’an

Beberapa ayat menggunakan kata tunggal, seperti:

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku…” (QS. Thaha: 14)

Namun pada ayat lain Allah menggunakan kata jamak:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”(QS. Al-Qadr: 1)

Ulama menjelaskan:

Kata tunggal dipakai ketika Allah menekankan sifat ketauhidan-Nya (satu, tidak berbilang).

Kata jamak dipakai ketika Allah menekankan kemuliaan, kebesaran, atau keterlibatan para malaikat dalam pelaksanaan perintah-Nya.

3. Pandangan Para Ulama

a. Imam Al-Qurthubi

Dalam Tafsir Al-Qurthubi, beliau menjelaskan bahwa penggunaan “Kami” adalah untuk pengagungan, bukan untuk menunjukkan jumlah.

b. Imam Ibn Katsir

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir mengatakan:

 “Allah terkadang menyebut diri-Nya dengan bentuk tunggal untuk menegaskan keesaan-Nya, dan terkadang dengan bentuk jamak untuk menunjukkan kebesaran dan bahwa segala urusan berada di bawah kekuasaan-Nya.”

c. Syaikh Asy-Syinqithi (Adhwa’ul Baya)

Beliau menambahkan bahwa penggunaan “Kami” juga bisa bermakna bahwa Allah mengutus malaikat dalam melaksanakan perintah-Nya. Misalnya dalam ayat tentang menurunkan hujan atau Al-Qur’an, malaikat Jibril ikut melaksanakan perintah Allah. Maka bentuk jamak digunakan, meskipun hakikatnya semua itu tetap atas kehendak Allah.

4. Penjelasan Ahli Bahasa (Nahwu-Shorof)

Dalam ilmu bahasa Arab:

Kata ganti “نحن (nahnu= kami) bisa dipakai untuk satu orang yang diagungkan

Bentuk ini disebut jam‘u ta‘zhīm (plural kehormatan).

Sama halnya dengan kata kerja bentuk jamak seperti anzalnā (Kami menurunkan) atau khalaqnā (Kami menciptakan).

Dalam balaghah (ilmu keindahan bahasa), hal ini membuat kalimat terdengar lebih agung, lebih berwibawa, dan lebih kuat.

Allah SWT adalah Esa, tidak berbilang.

Kata “Kami” dalam Al-Qur’an bukan berarti Allah itu banyak, tetapi untuk menunjukkan keagungan, kebesaran, dan kemuliaan

Kadang, kata “Kami” juga mencakup pelibatan malaikat dalam pelaksanaan perintah Allah (seperti wahyu dan hujan).

Para ulama tafsir dan ahli bahasa sepakat bahwa hal ini adalah bagian dari keindahan bahasa Al-Qur’an, bukan kontradiksi dalam tauhid.

ayat-ayat Al-Qur’an yang menggunakan kata ganti “Aku” dan “Kami”, beserta penjelasan konteksnya agar jelas perbedaannya:

1. Ayat dengan Kata Ganti “Aku”(Tunggal)

Biasanya dipakai untuk menegaskan tauhid dan bahwa Allah adalah Esa, tidak berbilang.

Contoh:

1. QS. Thaha: 14

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.”

Di sini Allah memakai kata tunggal “Aku” untuk menegaskan bahwa hanya Allah yang satu-satunya Tuhan

2. QS. Al-Hijr: 49

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Menunjukkan sifat Allah yang penuh kasih sayang, menekankan keintiman antara Allah dan hamba-Nya.

2. Ayat dengan Kata Ganti “Kami” (Jamak untuk Pengagungan)

Dipakai untuk menegaskan keagungan, kebesaran, dan kekuasaan Allah, atau ketika melibatkan malaikat dalam pelaksanaan perintah-Nya.

1. QS. Al-Qadr: 1

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”

Kata “Kami” digunakan karena proses turunnya wahyu melibatkan Allah yang memerintah dan Malaikat Jibril sebagai perantara.

2. QS. Al-Hijr: 9

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Kata “Kami” dipakai untuk menunjukkan kekuasaan dan kebesaran Allah dalam menjaga Al-Qur’an.

3. QS. An-Nahl: 10

Dialah (Allah) yang menurunkan air hujan dari langit untuk kamu…”

Dalam ayat lain sering muncul kata “Kami menurunkan hujan”, menunjukkan Allah yang berkuasa, meski malaikat ikut menjadi perantara turunnya hujan.

3. Penjelasan Perbedaan

Aku” → dipakai ketika Allah menekankan Tauhid (hanya Allah, Esa, tidak ada sekutu).

Kami → dipakai untuk pengagungan (jam‘u ta‘zhīm), atau ketika Allah menyebut perintah yang pelaksanaannya melalui malaikat (misalnya turunnya wahyu, azab, atau hujan).

4. Pandangan Ulama

Imam Al-Qurthubi: penggunaan “Kami” adalah bentuk pengagungan, bukan berarti Allah banyak.

Ibn Katsir: “Kadang Allah menggunakan kata tunggal untuk menegaskan keesaan-Nya, dan kadang jamak untuk menunjukkan kebesaran dan keagungan-Nya.”

Ahli bahasa Arab  menyebut ini sebagai jam‘u ta‘zhī (plural kehormatan), mirip “royal we” dalam bahasa lain.

Kesimpulan

Tidak ada kontradiksi dalam penggunaan “Aku” dan “Kami” di Al-Qur’an.

 “Aku” → menekankan keesaan Allah.

“Kami” → menekankan keagungan, kebesaran, atau keterlibatan malaikat sebagai pelaksana perintah.

Semuanya kembali pada **tauhid**, bahwa Allah Maha Esa, tidak berbilang, dan tiada sekutu bagi-Nya.



  .........”Kami Menurunkan Al Qur'an dan kami Pula yang Akan Menjaganya"”.......   Rahasia di Balik Kata “Kami” dan “Aku” dalam Al...